Oleh : A.Hidayat.ST

Hilirisasi lingkungan hidup adalah proses meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam melalui pengolahan menjadi produk setengah jadi atau produk jadi, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Tujuannya adalah untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, dan mendorong pembangunan industri yang berkelanjutan.

Pertanyaanya Di dalam hukum lingkungan itu drop, dan sementara itu, akumulasi bisnisnya yang hidup.

Kan itu yang terjadi, deposit nilai, value, masyarakat adat, hak pohon, segala macam itu, keindahan baginya itu hilang.

Lalu kita tonton akumulasi, saja yang di tampilkan. Saya ambil contoh perbandingan sedikit untuk rekan rekan dikalangan LSM.

Di jaman Presiden Soeharto, Orde Baru, yang diambil dari alam itu, bahkan diizinkan oleh Orde Baru, berbentuk HPH.

Tapi kalkulasi yang dibuat pada waktu itu, untuk kepentingan oligarki, karena Indonesia butuh devisa, ekspor.

Dan yang balik ke Indonesia itu masih 37-43%. Di jaman Soeharto.

Jaman SBY, menjadi tinggal 27%.

Lalu di jaman Jokowi terakhir hanya sisa tinggal 6%.

“Jadi kita lihat, konsekuensi dari upaya untuk mempush pertumbuhan ekonomi, menyebabkan ekologi itu dieksploitasi.
Itu, fakta.

Kita mau coba lihat, apa yang bisa kita lakukan hari ini di dalam kondisi tekanan hidup rakyat, yang daya belinya kurang.

Waktu itu saya naik ke Gunung Sumbing di Jawa Tengah, saya bertemu dengan seorang ibu tua umurnya 70 tahun dia sedang berada diketinggian 2.500 meter dari permukaan laut.

Saya bertanya ke ibu itu, Kenapa ibu? nyari kayu sampai setinggi ini hanya untuk kayu bakar, kenapa gak di ketinggian 1.000 atau Ketinggian 700 tanya saya.

Ibu itu berkata, itu yang kami ambil tadi pagi ujar si ibu. Kemarin sore, Minggu lalu kami masih di 700 meter, Sekarang kami naik cari Kayu bakar di 1.000 meter.

Jadi dia udah ambil kayu bakar untuk memasak itu di bawah ketinggian 700 meter.

Ibu itu semakin lama makin ke atas Karena tuntutan ekonomi. Ini dilemanya ada disitu, dia tidak ingin merusak hutan.

Seandainya ada kayu bakar Di ketinggian 500 meter sudah habis jadi si ibu itu sampai naik diketinggian 2500 meter hanya untuk mencari kayu bakar.

Jadi negara tidak mampu mensupply kebutuhan dasar dari ibu itu, dia perlu bahan bakar Energi, dan itu adalah kebutuhan dasar untuk hidup, energi itu dikuasai hanya oleh segelintir orang yang tidak ada di hilir, akan tetapi adanya di hulu.

Karena itu kita mau baca apa yang menghilirisasi? Ya sudah pasti energi yang tiba di hilir itu bersih, oke?. Dikasih nilai tambah, oke? . Di ekspor, oke?.

Tapi pertanyaan suatu waktu saya membaca artikel berita tentang hilirisasi tentang alam di Polandia, ada dua orang anak Indonesia yang mengatakan dia diskusi dengan teman-teman anak-anak muda dari Eropa. Dan menganggap bahwa teori hilirisasi Itu teori yang palsu.

Saya tahu jalan pikirannya itu, jadi bagi mereka, problemnya bukan yang dihilir, energi bersih, dikasih nilai tambah, di ekspor.

“Tetapi problemnya ada di hulu, yaitu apakah penguasaan izin-izin tambang di hulu itu demokratis atau tidak?.

Kalau penguasaan itu hanya 4-5 orang yang beroperasi di situ, tanpa tender, artinya energi di hilir itu bersih, energi politik di hulu itu yang kotor.

Itu problemnya sekarang. Jadi kita mau bongkar itu secara politikal ekonomi.
Kita harus meriset, supaya ada argumen,agar ada demonstrasi, yang memperdebatkan soal krisis lingkungan hidup, tentunya ada argumen supaya hidup tidak sekedar sentimen.

Saya melihat keadaan kita hari ini di seluruh dunia dalam keadaan yang sama sehingga timbul kemarahan.

Bagi mereka yang pro lingkungan, di beberapa wilayah, bahkan karena mereka marah tidak ada jalan keluar, bikin petisi tidak dianggap.

Pertanyaan saya, sejauh itukah yang bisa kita ambil risikonya di negeri ini?.

Mungkin belum sejauh itu hak alam di perjuangkan, itu penanda bahwa ada krisis di dalam kemanusiaan tentang lingkungan hidup. Ada gradasi moral tentang tanggung jawab tentang keberlangsungan hak alam dan isinya.

Ada hal yang sudah pernah diterangkan oleh banyak filsuf silahkan ambil sesuatu dari bumi, tapi tinggalkan sebanyak yang kau ambil, supaya ada orang lain bisa ambil sejumlah itu.

Itu yang kita sebut sebagai hutang generasi Generasi ke depan itu juga mesti bisa mengambil sejumlah yang sama dong.

Itu namanya kesataraan makhluk tetapi politik mengubah itu. Karena kita hidup dalam ekonomi yang intinya ada akumulasi.

Tapi dunia sekarang berubah, akumulasi pertama yang membangun visi tentang kapitalisme tidak mungkin mati.

“Namanya Klaus Wauw, dia bikin institusi namanya World Economic Forum yang setiap tahun seluruh kapitalis dunia, seluruh oligarki dunia bertemu dengan seluruh presiden negara yang maju di Davos, di Swiss, untuk memastikan arah kapitalisme.

“Artinya arah eksploitasi, arah pengerukan energi. Tapi sekarang, setiap 5-6 tahun, harus saya perhatikan. Brother Swap ini akhirnya sadar, dia bilang begini. Karena saya tahu dari awal
bahwa kerusakan lingkungan akan terjadi secara besar – besaran di tahun 2024.

Nah bagaimana mungkin target hilirisasi tentang alam ini akan terwujudkan kalau perambah – perambah hutan yang dilakukan oleh kelompok kapitalis terus berlangsung di dunia ini, apakah kekayaan alam itu dapat digantikan secara singkat, alam itu dapat memperbaiki kerusakan dirinya melalui proses perubahan iklimnya, Namun kerakusan manusia yang sudah merusak alam ini yang menjadi persoalan buat alam.

Akankah alam akan menunjukan kemarahannya kepada manusia, sudah pasti marah, alam itu adalah mahluk yang diciptakan Tuhan untuk berbagi dengan manusia beserta penghuni dunia ini, hak pohon untuk tumbuh, hak cacing untuk melakukan penggemburan unsur hara, hak burung untuk berkicau itu hampir hilang di hutan – hutan.

Apakah pemangku pemegang otoritas terkait lingkungan hidup dan pemegang otoritas tentang pendapatan keuangan melalui pajak dan perizinan di negara ini dapat melihat jeritan alam.

Ya kalau itu tidak dijaga dengan baik oleh pemerintah maka sudah pasti kehancuran di penghujung akhirnya akan terjadi, lalu hak para generasi kita nanti, anak – anak kita, cucu – cucu kita nanti apakah akan kita wariskan kehancuran untuk mereka?. “Pungkasnya.(Tim redaksi)

Editor Jul