BOGOR | KABUPATEN

Kabupaten Bogor Darurat korupsi, Forum Alumni Bem Bogor Raya Desak KPK Usut tuntas dan tolak impunitas.

Praktik korupsi di Kabupaten Bogor memicu kemarahan publik yang meluap. Forum Alumni BEM Bogor Raya (FABEM) menerbitkan pernyataan sikap keras bertajuk “Bogor Darurat Korupsi, Bogor Tidak Beriman Bogor.

Menuding birokrasi dan pembuat kebijakan terjangkit praktik korupsi, suap, hingga nepotisme yang merampas hak rakyat dan menghancurkan tatanan pemerintahan.

Dalam rilis yang dikeluarkan, organisasi ini menegaskan. Kabupaten Bogor bukan lagi wilayah yang sejahtera, melainkan wilayah yang terus-menerus dikhianati oleh kekuasaan.

Setiap rupiah APBD disalahgunakan, proyek-proyek rakyat dijadikan alat pengerukan keuntungan pribadi, dan transaksi jual beli jabatan yang menjadi hal lumrah di lingkungan Pemkab Bogor.

Kritik tajam ditujukan pada rentetan kasus korupsi yang melibatkan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), hingga BPN Kabupaten Bogor — yang tiga minggu lalu digeledah KPK. Ironisnya, hingga kini belum ada satu pun nama tersangka yang ditetapkan.

“KPK adalah lembaga independen yang bebas dari pengaruh pihak mana pun. Sikap lamban dan penundaan penetapan tersangka dalam skandal korupsi di Kabupaten Bogor hanya akan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di Indonesia,” tegas pernyataan itu.

Lima Tuntutan Tegas yang Tak Bisa Ditawar

1. Usut tuntas segala dugaan korupsi di Kabupaten Bogor tanpa terkecuali.
2. Tangkap dan adili para koruptor yang merugikan uang rakyat.
3. Tolak segala upaya intervensi politik dalam penanganan kasus korupsi.
4. Bongkar jaringan korupsi yang diduga melibatkan Bupati Bogor hingga elit Politik.
5. Desak KPK segera menetapkan tersangka dan tegas menolak impunitas.

Ultimatum 3×24 Jam ke KPK

FABEM memberikan tenggang waktu 3×24 jam kepada KPK untuk segera menetapkan tersangka. Jika diabaikan, ancaman tak main-main:

“Apabila tuntutan kami tidak dipenuhi, maka kami akan kembali dan meningkatkan eskalasi ke tingkat nasional dengan jumlah yang jauh lebih besar.”ucap Riduan Purba,.S.H. kordinator aksi demo.

Kontributor Bogor