Pontianak, onewsmedia.co id – Insiden yang melibatkan upaya pemerasan dan pengancaman dengan modus penutupan bandara di Bandara Supadio pada malam tanggal 3 Juli 2024 telah memicu perhatian luas dari pengamat dan praktisi hukum di Kalimantan Barat maupun nasional. Kasus ini menjadi viral di media sosial setelah video kejadian diunggah, mengundang banyak komentar dari netizen yang mengaku pernah mengalami hal serupa.( 20 Juli 2024).

Menurut Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Republik Indonesia, Andi Yanto, insiden tersebut terjadi saat seorang advokat bernama Chandra Kirana, bersama istri dan anaknya, dijemput di Bandara Supadio. Dalam video yang beredar di Instagram, terlihat sekelompok orang yang diduga melakukan pemerasan dan pengancaman terhadap Chandra dan keluarganya.

Andi Yanto menegaskan bahwa pihak kepolisian harus menjadikan kasus ini sebagai prioritas untuk membuktikan komitmen dan keseriusan mereka dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jasa Bandara Supadio. “Masalah ini harus menjadi prioritas bagi pihak kepolisian untuk membuktikan komitmen dan keseriusannya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jasa Bandara Supadio,” ujar Andi.

Reaksi dari netizen di media sosial menunjukkan bahwa insiden seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Banyak pengguna Instagram yang mengomentari video tersebut mengaku pernah mengalami kejadian serupa di Bandara Supadio. Harapan netizen adalah agar pelaku premanisme dan pengacau di wilayah otoritas objek vital seperti bandara segera diproses hukum untuk memberikan efek jera.

Andi juga menyoroti tanggung jawab pihak pengelola Bandara Supadio dan Polsek KP3U Bandara dalam meningkatkan keamanan dan pelayanan. “Kejadian pada malam 3 Juli 2024, yang terjadi kurang dari 100 meter dari Polsek KP3U, merupakan preseden buruk dan upaya pelecehan terhadap institusi kepolisian,” tegasnya.

Lebih lanjut, Andi mendesak pihak pengelola bandara dan kepolisian untuk memperbaiki sistem keamanan dan pelayanan. “Ibarat kejahatan terjadi persis di depan hidung, tapi tidak bisa diantisipasi,” pungkas Andi, menekankan pentingnya langkah-langkah konkret dalam mengatasi masalah ini.

Editor/Gugun